Bagi brand skincare, memahami kebutuhan konsumen urban tidak cukup hanya dengan mengikuti tren atau melihat bahan aktif yang sedang populer.
Ada rutinitas sehari-hari yang ikut membentuk kebutuhan kulit mereka: paparan sinar matahari saat beraktivitas, waktu tidur yang terbatas, hingga perubahan kulit seiring bertambahnya usia.
Kondisi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi brand untuk mengembangkan produk yang lebih relevan dengan kehidupan konsumen.
Sebelum menentukan formula dan klaim produk, penting untuk memahami konteks di balik kebutuhan tersebut. Sebab, masalah kulit tidak berdiri sendiri, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan dan gaya hidup konsumen.
Apa Itu City Skin?
City skin menggambarkan kondisi dan kebutuhan kulit orang yang tinggal di perkotaan, dengan rutinitas yang membuat kulit terus berhadapan dengan berbagai faktor lingkungan dan gaya hidup.
Mulai dari paparan sinar matahari saat bepergian, aktivitas di dalam ruangan ber-AC, hingga waktu tidur yang terbatas, keseharian ini membentuk tantangan tersendiri bagi kulit.
Untuk mengembangkan produk yang relevan, memahami city skin berarti memahami konteks di balik kebutuhan konsumen, bukan sekadar melihat keluhan kulit secara terpisah.
Dari sini, ada tiga masalah yang patut diperhatikan: paparan lingkungan, kurang tidur, dan penurunan kolagen.
Paparan Lingkungan: Tantangan Kulit yang Berlangsung Sepanjang Hari
Bagi konsumen urban, paparan sinar matahari bisa dimulai sejak perjalanan menuju kantor dan berlanjut di sela-sela aktivitas luar ruangan.
Menurut BMKG, indeks UV umumnya meningkat menjelang tengah hari dan dapat mencapai kategori tertinggi sekitar pukul 12.00–15.00, bergantung pada lokasi dan kondisi cuaca.
Namun, tantangan kulit tidak berhenti ketika konsumen masuk ke dalam ruangan. Laporan Digital 2026: Indonesia dari We Are Social dan Meltwater mencatat rata-rata penggunaan media sosial, termasuk menonton video online, mencapai 3 jam 7 menit per hari atau 21 jam 50 menit per minggu.
Aktivitas sehari-hari sering berlanjut di kantor ber-AC, dengan laptop dan ponsel yang menyala hampir sepanjang hari. Udara ber-AC cenderung kering dan dapat meningkatkan rasa kering atau tertarik pada kulit. Sementara itu, waktu yang dihabiskan di depan layar menggambarkan betapa lekatnya perangkat digital dengan rutinitas konsumen urban dan menjadi penyebab kulit kusam.
Bagi pelaku industri skincare, keseharian ini memberi gambaran tentang kebutuhan kulit yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan produk, mulai dari perlindungan terhadap paparan UV hingga menjaga kelembapan kulit dan kenyamanan kulit selama beraktivitas.
Kurang Tidur: Ketika Kulit Tidak Mendapat Waktu Pemulihan yang Cukup
Di tengah rutinitas yang padat, kebutuhan tidur sering kali tidak terpenuhi secara optimal. Padahal, durasi dan kualitas tidur turut berperan dalam menjaga fungsi kulit.
Survei YouGov yang dikutip GoodStats pada 2024 menunjukkan bahwa 51% responden dewasa Indonesia tidur kurang dari tujuh jam per malam, sementara 24% tidur lima jam atau kurang. Data ini menggambarkan bahwa kurang tidur merupakan pola yang relevan untuk dipertimbangkan saat memahami keseharian konsumen.
Tidur berperan dalam proses pemulihan tubuh, termasuk pemeliharaan fungsi kulit. Penelitian mengenai pembatasan tidur juga menemukan perubahan pada sejumlah parameter kulit, seperti hidrasi dan transepidermal water loss (TEWL), yaitu jumlah air yang menguap melalui lapisan kulit.
Efek kurang tidur dapat menjadi penyebab skin barrier rusak, dan berkaitan dengan perubahan tampilan dan kondisi kulit, seperti wajah yang tampak lelah atau kulit yang terasa lebih kering.
Meski bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kondisi tersebut, pola istirahat tetap menjadi bagian penting dalam memahami kebutuhan perawatan kulit konsumen.
Untuk menjawab kebutuhan konsumen melalui inovasi produk, insight ini dapat menjadi pertimbangan dalam mengembangkan produk yang mendukung kelembapan dan kenyamanan kulit, sekaligus sesuai dengan rutinitas konsumen yang memiliki waktu terbatas untuk beristirahat maupun merawat kulit.
Penurunan Kolagen: Perubahan Kulit yang Berlangsung Bertahap
Tidak semua perubahan kulit terjadi dalam semalam. Seiring bertambahnya usia, produksi dan struktur kolagen dalam kulit mengalami perubahan.
Kolagen merupakan protein struktural yang membantu menjaga kekuatan dan kekenyalan kulit.
Sejumlah tinjauan ilmiah menunjukkan bahwa proses penuaan memengaruhi keseimbangan pembentukan dan pemecahan kolagen. Salah satu riset dari British Journal of Dermatology mengenai penuaan kulit memperkirakan penurunan sintesis kolagen sekitar 1,5% per tahun, meskipun angka ini bukan patokan yang berlaku sama untuk setiap orang.
Selain usia, paparan sinar UV dan faktor gaya hidup juga dapat memengaruhi kondisi kolagen. Inilah alasan mengapa perawatan kulit jangka panjang perlu dipahami sebagai bagian dari rutinitas, bukan hanya respons terhadap perubahan yang sudah terlihat.
Konsep collagen banking atau collagen supplementation kerap digunakan untuk menggambarkan pendekatan perawatan yang berfokus pada menjaga fungsi kolagen untuk kulit dan mendukung kondisi kulit dalam jangka panjang.
Namun, istilah ini bukan berarti kolagen dapat disimpan seperti tabungan. Intinya adalah memahami pentingnya perawatan yang konsisten serta upaya mengurangi faktor yang dapat mempercepat kerusakan kolagen.
Bagi brand, perubahan kulit yang berlangsung bertahap membuka ruang untuk mengembangkan produk berdasarkan kebutuhan konsumen pada berbagai tahap usia. Memahami kebutuhan ini juga membantu brand membangun komunikasi yang realistis, tanpa menjanjikan hasil instan atau mengabaikan kompleksitas penyebab penuaan dini kulit.
Apa Artinya bagi Pengembangan Produk Skincare?
Ketiga masalah ini menunjukkan bahwa kebutuhan kulit konsumen urban terbentuk dari kombinasi lingkungan, rutinitas harian, dan perubahan biologis. Karena itu, pengembangan produk skincare perlu dimulai dari pemahaman terhadap konsumen, bukan hanya dari tren bahan atau klaim yang sedang populer.
Bagi tim brand, product development, dan R&D, ada beberapa pertanyaan penting yang dapat menjadi titik awal:
- Siapa konsumennya? Pahami rutinitas, lingkungan, dan tantangan yang mereka hadapi sehari-hari.
- Apa kebutuhan kulit yang ingin dijawab? Bedakan antara keluhan yang terlihat dan faktor yang mungkin berkontribusi terhadapnya.
- Bagaimana produk akan digunakan? Pertimbangkan kenyamanan, kemudahan penggunaan, dan kesesuaian produk dengan rutinitas konsumen.
- Bagaimana relevansi produk dapat dibuktikan? Pastikan formulasi, klaim, dan bukti pendukungnya selaras dengan manfaat yang ingin disampaikan.
Pendekatan ini membantu brand merancang produk yang tidak hanya menarik dari sisi tren, tetapi juga relevan dengan kebutuhan konsumen dan memiliki dasar pengembangan yang jelas.
Pembahasan mengenai bahan, formulasi, dan bukti klinis tentu menjadi tahap berikutnya. Namun, sebelum sampai ke sana, memahami masalah kulit dan konteks kehidupan konsumen merupakan langkah awal yang tidak kalah penting.
Memahami Kulit Urban, Memulai Pengembangan yang Lebih Relevan
Kulit konsumen urban menghadapi tantangan yang saling berkaitan, mulai dari paparan lingkungan, kurang tidur, hingga perubahan kolagen seiring bertambahnya usia.
Memahami ketiganya membantu brand melihat kebutuhan konsumen secara lebih utuh dan menentukan arah pengembangan produk dengan lebih terarah.
Bagi brand skincare, langkah awal yang penting bukan sekadar mencari tren atau bahan yang sedang populer, melainkan memahami masalah yang benar-benar dihadapi konsumen. Dari pemahaman itulah formulasi, pemilihan manfaat, dan komunikasi produk dapat dikembangkan secara lebih relevan.
Di Bahtera Adi Jaya, kami percaya bahwa pengembangan produk yang lebih relevan dimulai dari pemahaman terhadap tantangan konsumen. Melalui beragam bahan aktif dan solusi personal care, kami membantu brand mengeksplorasi peluang untuk menjawab kebutuhan kulit urban yang terus berkembang.
Pantau terus blog dan media sosial Bahtera Adi Jaya untuk mendapatkan insight seputar masalah kulit urban dan mengenal bahan aktif yang dapat membantu brand menjawab tantangan tersebut.
Ingin mengeksplorasi solusi skincare untuk kulit kota? Hubungi Bahtera Adi Jaya di sini.